skip to Main Content
Lokal Atau Import

Lokal atau import

Lovebrid Import VS Lokal
Sejak Lovebird digemari di Indonesia, tidak sedikit penggemar atau penghoby dan peternak lokal yang berburu materi lovebird baik indukan maupun anakan dari luar negeri alias import, khususnya dari Negara Eropa. Dulu hal ini bukan tanpa dasar dan alasan yang kuat, karena selain kwalitas burung yang memang lebih dari ternakan lokal di indonesia. Terutama untuk di postur, memang sudah diakui bahwa lovebird import eropa dulunya super besar hingga memiliki penampilan super mewah versi orang Indonesia.
Ini tidak lain, karena sistem dan pola ternak di Eropa, termasuk di beberapa negara Asia memiliki konsistensi yaitu komitmen pada jalur murni alias perkawinan satu jenis. Atau istilah gampangnya Lovebird atau Agapornis Fischeri (A.FC) dikawinkan dengan sesama FC, A. Personata dikawinkan dengan A. Personata, A. Nyasa dikawinkan dengan A. Nyasa begitu dengan dengan jenis lovebird lainnya.
Sedang untuk postur atau ukuran tubuh burung itu sendiri, selain memang dari hasil seleksi ternak dan dari indukan yang memiliki postur bagus, ini juga didukung dengan perawatan serta pemberian pakan yang lengkap atau komplit. Sehingga hasil ternakan yang akan dijual, termasuk yang di import ke Indonesia sudah dalam kondisi umur yang mapan atau diatas usia 8 bulan.
Sehingga harga jualnya pun memang belum mampu tersaingi oleh lovebird hasil ternakan lokal Indonesia. Ditambah setiap tahun kualitas burung ternakan Eropa semakin meningkat. Karena mereka selalu menyiapkan hasil ternakan yang sudah diseleksi untuk materi generasi indukan selanjutnya. Ini berlaku juga dalam hal pengembangan mutasi dari jenis lovebird itu sendiri, seleksi setiap hasil ternakan dan mempertahankan kwalitas jenis yang paling diutamakan.
Berbeda dengan kebanyakan peternak lokal dahulu di Indonesia, selain minimnya pengetahuan atau edukasi tentang jenis lovebird dan mutasinya, kebanyakan peternak lebih mementingkan sisi bisnis dan ekonomis ketimbang kwalitas ternakan itu sendiri. Begitu juga soal mutasi, tidak terlau mementingkan kwalitas, lantaran itu tadi, tergiur oleh peluang bisnis dan harapan mendapatkan rupiah dengan cepat dan menggiurkan.
Apa yang dilakukan peternak-peternak Eropa harusnya bisa dicontoh oleh peternak di Indonesia. Bermodalkan materi import yang bagus, bisa dijadikan modal untuk mengembangkan hasil ternak yang berkualitas oleh para peternak lokal di Indonesia. Ditambah lagi belakangan, kwalitas burung import juga semakin menurun karena imbas dari kepentingan bisnis dan ekonomi para peternak maupun para importir burung lovebird itu sendiri.
Dengan konsisten melakukan sistem seleksi dalam beternak dan tidak melakukan persilangan jenis yang akan menghasilkan lovebird cemong, bukan tidak mungkin hasil ternakan lokal bisa bersaing dalam kualitas sekaligus harga jual di pasaran. Bahkan hasil ternakan lokal mampu mengalahkan hasil ternakan Eropa yang sampai saat ini masih di import ke Indonesia.
Dengan sistim ternak yang baik, baik itu seleksi indukan cara beternak ditambah pakan ternak yang berkualitas, maka peternak lokal pasti mendapatkan hasil ternakan yang baik dan semakin berkualitas juga. Karena saat ini, seiring berjalannya waktu dan kemajuan zaman, masyarakat pecinta lovebird juga sudah semakin cerdas dalam memilih dan membeli lovebird.sekarang banyak peternak lokal yang menghasilkan burung lovebird dengan kwalitas baik dan intinya bukan asal burungya tapi kwalitasnya!kalau import lebih baik pilih import dan kalau lokal lebih baik pilih lokal,bukan saatnya menyalahkan salah satu pihak.bangkit hasilkan burung kwalitas dan bersaing dengan import!!!
(Ai-001/Ai-025)

Ada Kualitas
Ada Harga
Gak Asal Ternak
Gak Asal Manak

Peternak Lokal Bisa

Author:

This Post Has 4 Comments
  1. Cari materi FC yang betul 2 non Hibrid dimana ya ? Sampe sekarang saya belum menemukan kenapa ?
    Saya sudah beli beberapa pasang di peternak besar dan ada Nama di Indonesia ( gue sensor ya ) setelah besar muncul cemong juga.
    Mungkin Bisa di bantu ?

Tinggalkan Balasan

Back To Top