skip to Main Content
Antara Hibrid Atau Standart Spesies

Antara hibrid atau standart spesies

Kontroversi Cemong (Hybrid) dan Standar

Bicara Lovebird di Indonesia, kita pasti akan bicara panjang lebar soal lovebird singing dan sedikit yang mau bicara soal standar jenis maupun spesies. Berbeda dengan negara lain, Indonesia menjadi negara yang memiliki pandangan luas tentang lovebird dari dua sisi yang berbeda, yaitu singing atau suara tentunya dan keindahannya.

Dari sisi singing, bisa dikatakan selama ini di Indonesia sudah tertanam sugesti bahwa burung cemong alias hibryd adalah rajanya di gantangan. Padahal sebenarnya tidak sedikit burung ‘standar jenis’ atau standar spesies yang juga menjadi juara. Tapi seperti biasa pasti menjadi kontroversi di kalangan kicau lovebird mania.

Namun kami lebih suka menyikapinya dengan beberapa pendapat yang tentunya tidak perlu diperdebatkan. Namun tetap harus menjadi sebuah motivasi dan pemikiran kita semua para penghoby dan peternak lovebird.

Cemong atau Hibrid

Hampir seluruh gantangan, mulai kelas kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota hingga kelas atau tingkat nasional di belahan penjuru Indonesia, lovebird menjadi salah satu yang meramaikan setiap kontes atau lomba singing/kicau. Apalagi memang ketika dikelas lovebird bisa dibilang gantangan paling penuh pesertanya disetiap even. Dan tentunya sebagian besar yang menjadi juara, bahkan langganan adalah lovebird cemong alias lovebird hybrid.

Semakin seringnya lovebird cemong juara, maka semakin besar juga lovebird cemong juara tadi akan terus diternak atau kembangbiakan dengan harapan anak keturunannya dicari dan diburu dengan tentunya harga yang tinggi. Padahal sadar atau tidak sadar, ketika hybrid dikembang biakan, maka keturunannya akan semakin hybrid. Dan catatannya, belum tentu hasil anannya pasti moncer alias memiliki durasi atau trah ngekek panjang seperti indukannya.

Ketika yang menetas adalah anakan hybrid tanpa memiliki modal singing atau durasi atau ngekek panjang, sudah bisa dipastikan harganya bisa jatuh ke titik paling rendah dan bisa dibayangkan sendiri murahnya. Karena lovebird yang tidak memiliki modal ngekek durasi biasanya dijual ombyokan atau banyak yang menyebutnya lovebird sayur. Padahal sadar atau tidak sadar hal ini menjadi salah satu faktor semakin hilangnya sisi koneservasi yang harusnya diusung para penghoby dan peternak lovebird.

Semakin tingginya kita melakukan cross species alias hybrid dalam beternak lovebird, maka semakin kecil tingkat upaya konservasi terhadap jenis/spesies lovebird alias standar spesies. Bisa jadi ini juga disebabkan banyak faktor dibelakangannya, mulai dari alasan keterbatasan dana untuk membeli materi standar spesies, minimnya pengetahuan tentang jenis lovebird, hingga karena alasan ‘yang penting dapur ngebul dan bakul lancar’.

Ditambah lagi dengan banyaknya peternak yang bernafsu menciptakan mutasi tanpa memperhatikan kwalitas jenis serta standar spesies yang akan dimutasi. Apalagi harga mutasi seperti Biola, PB, Euwing dan transmutasi lainnya bisa setinggi langit. Padahal yang harus mereka sadari adalah, tanpa memperhatian standar jenis saja sudah bisa mahal, apalagi jika transmutasi tadi disertai dengan visual standar jenis yang jelas. Misal PB Perso atau PB FC dan Euwing Perso atau Euwing FC dengan berbagai visual dan mutasi warnanya. Sehingga transmutasi yang diciptakan benar-benar berkelas dan memiliki harga yang mungkin sampai kelangit ketujuh.

Artinya apa, ketika anda tetap berharap akan harga selangit ketika menciptakan atau menghasilkan lovebird gacor dan berbakat di gantangan singing tapi hybrid, mungkin anda akan puas dengan harganya. Tapi ketika sicemong tidak berbakat dalam singing, maka jangan menyesal apalagi menangis ketika ‘tidak’ ada harganya alias jadi sayur.

Standar spesies

Sama halnya dengan lovebird cemong atau hybrid yang memiliki prestasi dan selalu juara digantangan, lovebird standar jenis atau standar spesies ketika berprestasi dalam beauty contest pasti dicari dan ditawar dengan harga selangit. Apalagi sudah banyak sekali burung-burung standar spesies yang selama ini dinilai hanya bisa ikut dikontes warna pada Beauty Contest (BC) bisa menjadi juara di even singing. Meskipun menurut ‘Sugesti’ pemain gantangan, standar spesies menang singing tidak sebanyak cemong. Padahal ini juga karena memang masih sedikit yang menggantang standar spesies untuk even singing. Serta memang belum ada survey pasti untuk pembenaran perbandingan hal tersebut.

Disisi lain, Lovebird standar spesies, untuk di Indonesia saat ini sudah semakin berkembang. Selain sudah banyak peternak yang sudah mulai merubah polapikir dalam beternak. Tidak hanya kapasitas, tapi kwalitas hasil ternakan yang menjadi tujuan utama. Ini jelas karena semakin hari, lovebird standar spesies yang berkwalitas semakin diburu oleh lovebird mania, meskipun harganya juga tidak kalah tinggi dengan harga lovebird mutasi terbaru.

Ditambah dengan semakin mudah dan banyaknya ilmu pengetahuan yang bisa didapatkan oleh para peternak di Indonesia. Baik itu melalui jaringan internet, komunitas lovebird dan berbagai even BC yang diselenggarakan oleh komunitas. Sehingga semakin hari maka semakin banyak juga peminta lovebird standar spesies. Seiring hal tersebut semakin bagus juga kwalitas lovebird standar spesies di Indonesia, terutama jenis FC dan Perso yang memang paling populer di Indonesia selain Cemong alias Hybrid. Bahkan hasil ternakan standar spesies di indonesia sudah tidak lagi kalah saing dengan kwalitas standar spesies import bahkan mengalahkannya dalam beauty contest.

Balik ke soal ternakan dan singing tadi, jika lovebird standar spesies yang memiliki bakat singing dan sering menjadi juara,anakannya juga belum tentu akan memiliki bakat singing juga. Lalu bagaimana nasibnya (anakan standar spesies, red) tentu saja tidak sama seperti anakan cemong yang tidak memiliki bakat singing. Karena harganya tetap akan bernilai tinggi, terlebih dengan kwalitas dijenisnya masing-masing. Kalau hasilnya semakin berkwalitas dan ditambah bakat singing, maka bisa juga dibayangkan berapa harganya yang akan anda dapatkan.

Namun dari itu semua, tetap saja pasti banyak yang beralasan soal masih sulitnya dapat materi ternak standar spesies yang berkwalitas dan harus memiliki modal besar jika mau membeli materinya. Padahal itu bukanlah persoalan, karena kwalitas bisa diperbaiki dari materi yang kita miliki. Tinggal kemauan dan niat kita untuk merubah konsep cara beternak yang baik dan benar tanpa mengenyampingkan sisi konservasi dari jenis lovebird itu sendiri. Apalagi ilmu pengetahuan sudah semakin mudah didapatkan dan tinggal diaplikasikan lagi.(Ai-0025)

Gak Asal Ternak                                                                                                                                                                     Gak Asal Manak

Author:

Tinggalkan Balasan

Back To Top